image

Biasanya, anak perempuan dalam keluarga Jawa lebih ‘berpotensi’ dan  ‘berpeluang’ untuk menikah lebih awal dari saudara laki-lakinya. Ini maksudku kalau usia keduanya tidak terpaut jauh. Selisih satu tahun, bahkan 5 tahun.
Aku bilang biasanya. Biasanya berarti, bisa saja saudara laki-laki mendapat ‘jadwal’ lebih awal untuk menikah. Jadwal dari siapa? Tentu dari Tuhan lah. Siapa lagi yang bisa mengatur-atur pertemuan dengan jodohmu?
.
Asumsi yang beredar kalau adik perempuan ‘biasanya’ akan lebih awal menikah dari ‘abang laki-lakinya’ sering kuamini, atau setidaknya tidak kusangsikan. Bahkan dengan ‘pede’nya mengikrarkan ke banyak sanak, bahkan teman-teman kalau ‘aku’ pasti (?) Menikah lebih awal dari kakakku laki-laki. Apalagi, aku menjadi anak perempuan bungsu dengan ‘abang’ yang hanya terpaut usia 1 tahun. 1 tahun? Iyaa, bahkan kita seperti teman bermain. Sekolah bareng, kuliah bareng, wisuda bareng, dan (hampir) dapat pekerjaan dalam waktu yang berdekatan. Fiuh.
.
Meski sepertinya kita memiliki momen-momen waktu yang sama, namun, tidak untuk kisah asmara kita. Dan di sini, ceritanya ‘abang’ laki laki ingin mengawali adik perempuannya.
.
Ah, makanya, jangan sok tahu! Kayak kamu yang bisa bisa ngatur masalah jodoh.
Kalau ingat ‘sok-tahu’ dulu, jadi saya ingin tertawa. Yah, akhirnya saya adik perempuan 23 tahun, (masih-single), yang ditinggal ‘abang’nya menikah. Gue keduluan.

Sedih?
Iya.
Tau apa sebabnya?
Yang paling bikin sedih bahwa setengah hak dari adik perempuannya untuk diantar-jemput, dibonceng sepeda akan terenggut.

Dan, tepat hari ini, hari kedua di bulan januari 2016 saudara laki-laki satu-satunya ini akan datang ke rumah wanita dambaannya. Ini ‘lamaran’ woy, bukan ‘aqadan’! 😀
Hai brader, Happy engagement. 🙂

Obrolan

Tag

, , ,

“The bad news is time flies. The good news is you’re the pilot.” -”

― Michael Altshuler

IMG20151229172727_1

2015, It feels like yesterday! Dan hari ini sudah 2016. Woaah, what a time flies so fast, seperti kereta berkecepatan tinggi melintas saja dan menghiraukan saya yang tengah berdiri di tepi pemberhentian. The good news is you’re the pilot. To me, I dunno, What’s good to be a pilot? Jika saja diibaratkan kehidupan saya ini adalah awak pesawatnya, dan dia bisa berbicara, maka dia akan menyesali keberadaan saya sebagai pilotnya. Yah, lu pilot apaan? Aimless, Kaga tau rute (pilot kok ga tau rute?!), jalan seenaknya dan pesawat banyak turbulensi!

Hmmh, ah sudahlah. Absurd kaan? 😀

Sekarang sudah 2016.

Kadang saat tiba-tiba melamun, – bahkan saat menulis ini juga sempat melamun 😀 –  saya masih susah percaya betapa waktu rasanya sudah secepat ini. Ini kan baru kemarin saya bikin resolusi 2015 di buku tulis pake spidol merah? Sekarang udah nulis lagi resolusi lagi buat 2016?

Jika melihat lagi coretan resolusi yang sengaja saya tulis akhir desember 2014 silam, satu persatu sepertinya belum ada yang terealisasi. Apa resolusi saya yang OMDO (Omong Doang)? Ya sepertinya begitu. Perjalanan 2015 meskipun sebenarnya tidak terlalu terjal, namum cukup berliku dan berbelok. Banyak hal-hal di luar ekspektasi dan rencana. Kalau diibaratkan seperti travelling (yah, ibarat lagi -__-) apa yang sudah saya tulis di itinerary saya buang, dan saya memilih getting lost. 😀

Kalau di bikin list, perjalanan berliku ini seperti ini : 🙂

  1. 12 bulan lamanya masih saja tidak bisa mengubah kemampuan bahasa Inggris saya yang cetek, susah ngomong, susah nulis (ini sih, walaupun 100 tahun kalau ga komitmen belajar keras juga ga bakal meningkat XD), akibat dari rasa ‘inferior’ ini akhirnya saya ga bisa move on dari rencana ambil test IELTS. Udah, stuck di rencana! Hahaha.
  2. Ga punya nyali kuat buat apply beberapa scholarship yang beberapa kali datang silih berganti, kecuali beasiswa Mora (itupun gagal di tahap wawancara). Yang saya lakukan cuma ‘nyengir kuda’, nangis di pojokan, garuk-garuk tembok kamar (apasiih XD). Alasannya sih klasik, rasa ‘inferior’ lagi yang berlebihan dengan profil diri, dan, tentunya masalah kemampuan bahasa (lagi). Jadi, 2015 masih sibuk membangun profil doongs 😀
  3. Ga punya nyali apply ke universitas impian. Lagi-lagi, alasan klasik.
  4. Gagal ngisi lembar passport

Resolusi, resolusi, resolusi, apaa sih untungnya bikin resolusi? Nanti akhirnya jadi tulisan usang yang nempel di tembok, terus bikin galau di ujung tahun karna ga ada satu-pun rencana yang ter-eksekusi?

Meski begitu, saya ga kapok bikin resolusi. Meski ‘hampir’ semua rencana ‘belum’ terlaksana bukan berarti itu gagal. Mungkin ada tahun di mana rencana-rencana itu akan manis berbuah. Visualisasi mimpi itu penting, karena menurut satu penelitian dengan menulis apa yang ingin kita raih, secara tidak sengaja kita mentransfer mimpi-mimpi itu ke alam bawah sadar kita.

Meski 2015 banyak menyisakan luka (Eaaa :D) dan penyesalan, tetap saja banyak sekali pelajaran yang sudah saya dapatkan.

well, it has been 2016 already!

There are so many things to do,

There are many books to read,

There are many ideas to write,

There are many places to visit,  

And I am a pilot of my life now. No, I am not aimless girl 😄

“If you want to fly on the sky, you need to leave the earth. If you want to move forward, you need to let go the past that drags you down.”  Amit Ray

textgram_1451621976

Goodbye 2015,

You have taught me many things. Untuk memahami kegagalan, menghargai prestasi, dan memahami artinya kerja keras.

2016,

semua segala kehidupan menjadi berkah 🙂

 

 

Berburu Beasiswa MORA

Tag

, , , , , , ,

“ yang membuat hidup ini menarik adalah kemungkinan untuk mewujudkan impian menjadi kenyataan”

-Paulo Coelho, dalam novel “The Alchemist”-

Ini ‘mungkin’ menjadi sepotong dari cerita perjalanan saya menuju mimpi saya mendapatkan beasiswa studi ke luar negri. Let’s start the Journey!

download

Part 1 🙂

Rasanya masih tidak percaya membaca pesan Aris, teman sekelas kuliah di bbm saya sekitar  3 minggu yang lalu, tepatnya seminggu sebelum lebaran yang mengabarkan kalau saya diterima beasiswa MORA (Ministry of Religious Affairs) program “5000 Doktor) pada tahap pertama atau administrasi.

what? Really? Are you serious?” are you kidding me?”

Tentu saja saya kaget setengah mati, karena saya tidak ‘mengharapkan’ apapun dari beasiswa ini bahkan di tahap pertama. tidak mengharapkan? Tepatnya tidak mengharapkan, karena saat saya melakukan registrasi dan submit data saya tidak melengkapi beberapa persyaratan yang diminta, padahal beberapa persyaratan yang tidak saya penuhi ini sifatnya wajib. Every applicant has to meet the requirement! Apa itu syaratnya? Surat rekomendasi professor untuk proposal thesis, dan surat pengantar rector atau pimpinan universitas asal. Saya sengaja tidak melampirkannya karena memang saat batas akhir (deadline) pendaftaran saya belum mendapatkan kedua surat tersebut karena alasan ‘mepetnya’ informasi yang saya dapatkan tentang beasiswa ini, ditambah kesibukan mengajar di rumah dan jauhnya rumah saya yang di Sidoarjo, dengan kampus yang ada di Malang. Medapatkan rekomendasi dari dua dosen pun tidak gampang. Pengalaman yang saya dapatkan seperti ‘mencari jarum dalam jerami’ alias susaaaah sekali. Karena kesibukan dosen yang ‘berlebihan’ (bagi saya) di luar jam kantor kampus. Ini benar-benar langkah BONEK (Bondo Nekad). Bismillah, saya men-submit data seadanya dan proposal thesis yang bagi saya it’s totally bad (faktor waktu persiapan dan kurangnya referensi).

But, Allah has given me a chance to step forward. Thank you Allah 🙂

Setelah benar-benar membaca pengumuman itu di pdf yang resmi dikeluarkan pihak Diktis (Pendidikan Tinggi Islam) di website MORA, saya baru percaya bahwa nama saya berada di antara beberapa aplikan pendaftar beasiswa Luar Negri Mora lainnya dari berbagai perguruan tinggi Islam di Indonesia. I’m so excited!

Yang saya lakukan pertama dengan Aris (karena satu-satunya teman yang saya kenal dari ratusan applicant yang lolos) adalah segera mungkin mencari tiket kereta api tujuan Jakarta –karena alasan tiket pesawat yang mahal sekaliii-. Wah, tanggal segini nyari tiket kereta api? Emang dapet? Ini musim arus balik woy, jelas kaga dapet kalo pesen hari segini”

Memang problem juga tanggal seleksi wawancara beasiswa MORA ini, Karena tanggal wawancara yang hampir berdekatan dengan arus balik lebaran. Tanggal 27 adalah hari aktif sekolah, sehingga tanggal 26 menjadi puncaknya arus balik. Padahal seleksi dilaksanakan tanggal 28, yang pada akhirnya juga diundur tanggal 29, alhmdulillah. Untuk melaksanakan tes tanggal 29, jelas saya harus memesan kereta untuk tanggal 27 karena estimasi waktu yang di tempuh dari Surabaya ke Jakarta, dan untuk menyisakan waktu sesampai tiba dengan waktu pelaksanaan tes pada tanggal 29 Juli 2015 jam 08.00 pagi untuk beristirahat agar tubuh fit saat proses seleksi.

Aris mencari tiket keberangkatan dari Malang ke Jakarta, namun ‘ternyata’ sudah ludes habis, dan akhirnya giliran saya yang harus mencari 2 tiket Surabaya-Jakarta untuk tanggal 27. Saya mencoba membuka semua website untuk mem-booking tiket kereta dari website resmi KAI, sampai website-website lain Seperti yang dibayangkan, all of tickets are sold out, there was not any left! Saya sudah berusaha menanyakan ketersediaan tiket di stasiun-stasiun besar yang ada jurusan ke Jakarta seperti stasiun Pasar Turi, stasiun Gubeng, channel-channel PT KAI seperti Indomaret, Alfamart, JNE, tapi tetap saja nihil. Jelas saja, karena semuanya tersistem online. Jika mengecheck ketersediaan tiket melalui website dan hasilnya booked, berarti ketersediaan offline juga habis. L

Alternative te:rakhir adalah berangkat ke Jakarta dengan menggunakan pesawat. Ini yang agak berat bagi saya karena kondisi keungan yang sedang ‘darurat’ alias bokek. Harga tiket pesawat-pun saat saya check sekitar 900 hingga 1 jutaan sekali berangkat. Ibu sudah menyarankan untuk beralih ke pesawat jika benar-benar tidak mendapatkan tiket kereta. Alasan ibu saya hanya satu, kenyamanan transport dan hemat waktu. Saya tidak perlu berlama-lama di transportasi yang nanti bisa memakan tenaga juga. Meski begitu saya tetap tidak berhenti mencari tiket kereta, barangkali ada tiket yang dibatalkan. Saya tetap tidak mau bermahal-mahal jika memang ber-hemat bisa. ( it’s my case! :D)

Tapi pertolongan Allah benar-benar dekat. Ayah memberitahu bahwa mas sepupu memiliki tetangga yang bekerja di PT. KAI yang bisa dimintai tolong. Beliau memiliki 2 jatah tiket yang ‘tidak terpakai’ (karena katanya setiap pegawai memiliki jatah tiket perjalanan –but I don’t know exactly-).  Kebetulan yang menguntungkan sekali J. Finally, the problem about train ticket has been solved. What should I do the next?

Penginapan!

Ini jelas menjadi kendala penting juga bagi orang-orang seperti saya yang tidak memiliki sanak-saudara di Jakarta.

Teman? Punya. tapi jadwal test yang ‘kurang tepat’ karena dilaksanakan sekitar 2 minggu setelah lebaran ditambah bersamaan dengan libur perkuliahan jadinya teman-teman di pondok dulu yang kuliah di Jakarta masih menikmati masa mudik di kampung halaman. Saudara sebenarnya ada yang bekerja di Jakarta, tapi lokasi domisili yang jauh dari tempat wawancara yang berlokasi di Jakarta Pusat, dan saudara saya dinasnya di Jawa Timur, jadi pilihan menumpang di rumah saudara sangat tidak mungkin. Pilihan terbaik adalah mencari penginapan atau hotel terdekat dengan lokasi test.

Beberapa om dan saudara saya menganjurkan saya untuk booking hotel terdekat, daripada ‘numpang gratis’ namun beresiko tinggi seperti terlambat test atau tersesat di Jakarta (alasan rasional ya, secara saya bukan penduduk Jakarta dan sekali dua kali saja ke sana). Bahkan om saya menganjurkan saya booking hotel yang ditempati test, The Acacia Hotel. Wah, it’s crazy. Ini hotel berbintang 5 cuy, harga kamar termurah aja semalam sekitar 600-700 juta. It’s damn expensive for me! Walaupun test wawancara sehari, saya perlu dua malam untuk menginap karena jam wawancara yang belum jelas berakhir sampai jam berapa. Akhirnya saya browsing melalui traveloka, disitu muncul banyak pilihan hotel dari yang termurah hingga termahal, dari jarak terdekat dengan acacia hingga jarak terjauh. Ada hotel termurah dengan harga 250 dalam 2 malam, namun yaa dengan kondisi dan fasilitas yang mungkin sedikit buruk. Kalau orang Jawa bilang “rego gowo rupo”. Kalau memilih hotel dengan harga segitu di Ibukota, maka jangan berharap apapun! Sebut saja Hotel MGS. Keistimewaannya hanya bertarif murah. Namun fasilitas dan service-nya be-rating murah di Traveloka. Ayah saya lebih menganjurkan lokasi hotel dan kenyamanan walaupun dengan harga yang ‘agak tinggi’ daripada murah namun jauh, karena biaya plus-plus pasti banyak, seperti transport, makan, dll.

Dan pilihan jatuh pada hotel Amaris Senen, yang lokasinya ternyata di jalan raya yang sama dengan Hotel Acacia, yaitu Jalan Kramat Raya. Saya lihat di Google Map sangat dekat, pilihan transport juga mudah, review hotelnya yang sangat bagus dari pengguna traveloka yang pernah menginap, gambar kamar yang rapi dan cantik, dan the most important is Breakfast and Wi-fi include. Cocok nih! Walaupun agak sedikit bermodal 721 ribu untuk dua malam, namun jika dengan fasilitas yang menunjang InshAllah nggak rugi. Langsung booking!

Nostalgia

download

Jika mengingat kembali satu hingga enam bulan terakhir menjadi mahasiswa akhir, bagi saya seperti menikmati ‘seduhan kopi’. Di satu waktu terasa mencandui kafeinnya, satu waktu terasa nikmat manisnya, dan di waktu bersamaan juga kadang terasa pahitnya. Serius! Semanis gula saat bisa ‘nongkrong’ dan hangout bareng dengan teman-teman, menikmati buku-buku perpustakaan di meja tepi jendela perpusatakaan di lantai 3, hingga saling mengobrolkan makanan paling memuakkan mahasiswa ‘bangkotan’, yaitu ‘skripsi’. Eh benar, selain skripsi itu pahit bagi mahasiswa akhir, kadang skripsi menjadi manis saat menjadi bahan ‘luconan’ atau bisa dianggap semacam ‘parody’.

Pahitnya?

Tentu ada. Mungkin ini juga sudah menjadi ‘rasa’ yang umum yang biasa dirasakan mahasiswa-mahasiswa semester akhir. Ribet skripsi! Saya masih ingat bagaimana saya mengejar-ngejar dosen, rela-relabegadang sampai larut –dan akhirnya tetap saja- revisi berkali-kali. Di kritik dosen? Itu juga sudah biasa. Ah masa-masa itu begitu terindukan!

Saya dan teman-teman pernah membayangkan bagaimana kehidupan kami setelah wisuda. Apakah tradisi ‘nongkrong’ kami sekelas bisa abadi?

“ya, tentu bisa dong, kita harus tetap menjalin silaturahim, sesibuk apapun kita. kita harus sering-sering kumpul gini yaa,, “

Ya, itu ekspektasi kita bersama. Lihatlah, itu jawaban anak yang pikirannya masih terlalu ‘muda’, yang belum tahu apapun kehidupan nyata setelah wisuda. Saat kalimat ‘pertanyaan’ itu dilahirkan, hati saya di satu sisi meng-amini, di satu sisi menyangsikannya.

Dan kehidupan pasca lulus.

Jika saya mengingat kembali slogan-slogan ‘kebersamaan’ yang terus didengungkan teman-teman saya (dan saya juga) untuk tetap bisa bersama meski kita sudah lulus itu semacam obrolan anak kecil yang tidak berarti apa-apa lagi. Jangankan dalam tenggang waktu lama, bahkan untuk mengadakan acara ‘nongkrong’ lagi satu hari pasca kita diwisuda-pun menjadi semacam kegiatan yang ‘mustahil’. Acara wisuda, selain acara peresmian ‘lulus’ juga semacam acara pemisahan masing-masing kami. Satu hari setelah benar-benar memegang status ‘sarjana’ kehidupan dari masing-masing kami seolah 180 derajat berbeda. Jika dulu “satu pesan singkat” di ponsel dari ketua kelas bisa menyatukan kami yang jumlahnya -lima-belasan anak- dalam satu ‘tempat’, maka kini ‘satu pesan singkat’ itu sudah tidak bisa lagi. Kita seperti sudah memiliki kehidupan masing-masing yang sudah tidak bisa ‘di-sapa’ dan diganggu lagi.

Apa kabar kalian?

Selama 4 tahun, kami hidup ber-delapan belas dalam satu kelas. Empat teman saya memilih untuk lulus lebih cepat, di bulan Mei 2014. Sisanya, termasuk saya ‘lulus’ di bulan Oktober 2014, dan sisanya lagi –yang jumlahnya- tinggal dua wisuda di tahun 2015. Setelah wisuda, hidup kami kini sudah saling berjauhan. Ada yang tetap tinggal di Malang dan ada yang pulang kampung halaman. Ada yang meneruskan magister di universitas yang sama, ada yang pulang dan berkarir di rumah, dan ada juga yang merintis karir di perantauan- di Malang.

Meski hidup berjauhan, kami masih bisa bertegur sapa. Media sosial sangat membantu kami semua untuk saling sapa, baik via Whatsap, facebook, maupun BBM. Benar, jarak tidak menjadi masalah bagi kami. Namun tetap saja, kadang-kadang media sosial tidak bisa mengobati rasa rindu kami untuk bertemu dan membagi kisah.

Saya kini di kembali ke rumah, mengabdi untuk mengajar. Sebagian teman-teman juga ada yang sama sepertiku. Sebagian lain melanjutkan studi magisternya.

Aku selalu bertanya kepada Tuhan tentang bagaimana kehidupan kami, setidaknya lima tahun dari sekarang. Saya kembali mengingat obrolan-obrolan teman-teman laki-laki saya di beberapa waktu saat kami selalu berkumpul tentang karir mereka ke depan. Beberapa dari mereka ter-obsesi menjadi sosok Abraham Samad masa depan, ketua KPK (yang  beberapa bulan lalu masih dipimpin beliau), sebagiannya memimpikan untuk menjadi calon mentri agama masa depan, sebagian lagi menjadi rektor, dosen, dan sebagian lagi menjadi pengusaha sukses. Dan mimpiku sendiri adalah menjadi praktisi pendidikan seperti sosok Anies Baswedan. Dan itu semuanya kuaminkan setiap hari, berharap Tuhan merestui obrolan-obrolan –doa- kami.

Saat ini, kuhadirkan satu-satu wajah mereka dalam pikiranku berharap ada satu waktu di mana kita bisa bertemu.          

Obrolan

Kembali ke Rumah

home

Kehidupan pasca wisuda menjadi kehidupan paling dilematis yang sering dihadapi oleh sarjana-sarjana muda seperti saya. saya mengatakan ‘sering’ karna banyak dari teman-teman saya, yang statusnya kini juga sarjana ‘anyaran’ atau istilah lainnya fresh graduate mengeluhkan masalah yang sama seperti saya. kuliah (lagi), kerja, atau menikah?

Kembali pada posisi saya kini, yang (sepertinya) kini bukan fresh graduate lagi.

Saya yakin, tentu setiap orang menginginkan kehidupan berjalan sesuai apa yang mereka impikan. Kuliah, lulus (cepat-berkualitas), mendapatkan kerja yang layak (tentunya dengan gaji yang tinggi?), atau, mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi tingkat magister. Itu plot hidup yang diinginkan setiap orang (mahasiswa), termasuk saya. Mimpi saya saat semester-semester awal hingga menjelang tahun ketiga perkuliahan adalah menyelesaikan kuliah secepat-cepatnya dalam jangka waktu tiga tahun setengah. Ya, itu adalah waktu tercepat di kampus saya. Pikiran saya hanya satu, bahwa menyelesaikan kuliah dengan singkat adalah hebat! Saya tahu bahwa mimpi saya ini muncul karna rector, dan dekan fakultas saya yang berkali-kali memotivasi –atau- ‘mencuci otak’ mahasiswanya untuk lulus kuliah dalam waktu yang singkat, dan itu masuk dalam prestasi hebat –walaupun mungkin itu versi mereka (dan orangtua?)-

Namun ternyata, mimpi untuk ‘lulus cepat’ dalam jangka waktu tiga setengah tahun hanyalah mimpi belaka. Karena, fakta dan realita ‘belum selesainya’ skripsi dalam tenggat waktu yang dijadwalkan harus membuat saya menunda ‘kelulusan’ yang saya jadwalkan lebih awal. Saya meyakini bahwa ini rencana Tuhan yang terbaik.

Selain ‘lulus cepat’ saya memimpikan untuk sesegera mungkin bisa melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi, tentunya dengan beasiswa, karena saya sudah berkomitmen untuk tidak lagi berpangku tangan kepada orangtua. Untuk mendapatkan beasiswa, ternyata juga tidak semudah meniup lilin. Ada banyak persyaratan dokumen, dan –tentu saja- persyaratan ‘profil diri’ yang harus dipenuhi. Ini yang menjadi pekerjaan ‘besar’ saya saat ini.

Saya tidak pernah sekalipun membayangkan untuk langsung ‘bekerja’ usai kuliah. Pikiran saya hanya satu, melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Saya menginginkannya, karna saya sangat menyukai belajar. Saya seperti lupa bahwa akan ada masa di mana saya harus kembali ke dunia nyata, yaitu dunia kerja.

Lagi-lagi, mimpi yang sudah dipetakan beberapa tahun sebelumnya kembali dihadapkan pada realita yang berbeda. Saya harus menunda keinginan saya melanjutkan studi S2 untuk beberapa waktu. Saya menyadari bahwa saya perlu merintis karir, karna itulah kehidupan yang sesungguhnya. Saya berbelok, memilih jalan satunya, yaitu ‘berkarir sekaligus bekerja’. Sebagai sarjana muda, tentu saja saya memiliki rencana-rencana yang idealis. Karna saya sarjana pendidikan, tentu saja bermimpi untuk mengajar di sekolah-sekolah favorit berkelas, karna saya memikirkan harga diri. Saya mulai memburu sekolah-sekolah berbasis Internasional hingga sekolah fullday yang kelihatannya menjadi ‘tren’ populer di masyarakat. Saya mulai mendaftar di salah satu SMP Islam ‘bergengsi’ di daerah kota saya. Kebetulan saat itu pihak sekolah membuka rekruitmen guru melalui seleksi ketat dalam beberapa tahap. Saya tidak pernah membayangkan bahwa sekolah ini begitu banyak diminati para guru-guru dan sarjana-sarjana muda seperti saya. Pada tahap kedua saya sudah ‘gugur’ dalam seleksi. Saya mulai memburu sekolah favorit lain. Lagi-lagi Tuhan tidak merestui rencana ini.

Di tengah hari-hari sibuk pencarian ‘karir yang baik’ di balik sekolah-sekolah favorit, suatu hari saya melamun sendiri di kursi ruang tamu dan menatap gedung bertingkat dua sederhana yang sudah lama berdiri kokoh di depan rumah. Gedung itu adalah sebuah Madrasah kecil yang selama ini diasuh oleh keluarga saya sendiri. Saya tidak pernah berpikir untuk masuk ke dalamnya, apalagi untuk ikut merawatnya. Sekali lagi, karna itu bukan sekolah bergengsi, dan ini masalah harga diri. Entah bagaimana, saya lebih suka rumah dan pekarangan orang lain yang bagi saya lebih terlihat cantik. Saya ingat beberapa teman yang senang menggoda saya, “kamu enak, tak perlu susah-susah mengirim surat lamaran kerja ke beberapa sekolah, karna kamu sudah memilikinya”.  Dan saya masih ingat bagaimana saya menjawab setiap kali beberapa teman mengatakannya, “kamu pikir saya akan mengajar di situ? Saya ingin berkarir di luar, di sekolah yang lebih bagus.”

Beberapa hari setelah itu, saya mendapatkan panggilan test wawancara dan micro teaching di sebuah sekolah fullday. Paman, yang sekaligus kepala sekolah di madrasah kami mengetahui hal ini akhirnya membujuk saya untuk ‘kembali ke rumah’. “ untuk apa merawat rumah orang lain saat kamu punya rumah sendiri?“. Kalimat ini singkat, namun cukup keras menegur saya.  Bujukan paman saya benar-benar menyadarkan mimpi-mimpi saya yang saya anggap sangat ‘idealis’. Bahwa, untuk berkarir menjadi guru yang baik tidaklah selalu harus di balik dinding-dinding sekolah bergedung besar dan tinggi, sekolah yang berdurasi lama (fullday) dan juga bergaji tinggi. Untuk menjadi guru yang baik, kita bisa mengajar di manapun asal berkomitmen tinggi untuk terus mengabdi.

Saya belakangan menyadari bahwa pikiran memburu sekolah-sekolah favorit karna harga diri adalah pemikiran paling bodoh. Saya seperti kacang yang lupa pada kulitnya. Saya seperti sudah kehilangan kesadaran bahwa madrasah kecil di rumah kami lebih membutuhkan tenaga pendidik yang lebih muda, energik dan berkualitas tinggi. Dan inilah saatnya saya mulai untuk turut hadir berkonstribusi. Mengajar haruslah didasari ketulusan hati untuk mengabdi, bukan masalah gaji atau ‘gengsi’.

Saya mulai menyukai aktifitas saya setiap hari. Bertemu dengan anak-anak kecil untuk mengajari mereka mengaji dan membaca. Saya menyukai semua pekerjaan saya di balik kelas-kelas yang kecil ini. Saya bahkan berpikir bahwa inilah sebenarnya ‘harga diri’. saya berterima kepada Tuhan untuk menghadiahiku kebahagiaan di balik pekerjaan ini dengan cara-Nya sendiri.

Untuk madrasahku yang kecil,

Aku di sini, aku kembali…

Kuliah Online, WHY NOT?

typing

Akhir-akhir ini saya setengah dari waktu saya disibukkan oleh kuliah online yang saya ikuti. Kuliah online ini dikenal dengan MOOCS (Massive Open Online Course), yaitu kuliah umum terbuka yang bisa diikuti oleh semua orang dari setiap penjuru dunia. Dua MOOCS yang saya ikuti ada dua, yaitu EdX, dan Future Learn. EdX sendiri merupakan sistem kuliah online yang didirikan oleh kampus-kampun ternama di Amerika Serikat, seperti Harvard University, University of California Berkeley dan Massachusetts Institute of Technology (MIT). Sedangkan ‘Future Learn’ adalah MOOCS yang didirikan pada tahun 2012 oleh sebuah universitas terbuka di Militon Keys, Inggris. Beberapa patner universitas yang tergabung dalam ‘Future Learn’ –seperti yang saya tahu- adalah kampus-kampus yang berbasis di Eropa, seperti University of Abardeen-Inggris, University of Groningen Belanda, University of Reading Inggris, University of Bath, University of Leeds, University of Lancaster, University of Edinburgh, British Council dan masih banyak lagi. Sama dengan EdX, ‘Future Learn’ juga menawarkan banyak pilihan course yang bisa dipilih oleh peserta course. Jadi, tinggal sesuaikan kebutuhan dan minat saja. 🙂

Pada awalnya saya mengikuti kuliah ini dari informasi yang di-share oleh official akun facebook Aminef Surabaya. Karena saya tipe orang yang kuriositasnya tinggi banget, atau bahasa sekarang kepo-an, udah gak pakai mikir lama lagi langsung saya buka aja official websitenya. Pada saat itu yang diposting Aminef adalah Academic and Business Writing course yang diselenggarakan oleh University of California of Berkeley. Awalnya saya kurang paham tentang kuliah online ini, namun setelah saya kaji, saya semakin tertarik dan tanpa menunggu lama langsung melakukan registrasi (registrasi yang saya maksud adalah registrasi akun, and don’t worry, it’s free!) 😀

Apa yang menarik dari MOOCs?

Pertama, it’s Free. Gratis!

Jelas saja, apa-apa yang gratis akan sangat menarik. Hehe. Apalagi ini masalah ilmu. Jaman sekarang ilmu menjadi hal yang mahal. Ini kursus, dan kursus diberikan oleh universitas ternama dunia. Berapa harga yang pantas dibayar? Tentu jika kuliah ini berbetuk offline atau face-to face maka bisa saja jutaan rupiah. Tapi ini Free! Gratis! Tidak dipungut biaya apapun. Lebih lagi, pada tiap akhir perkuliahan berakhir, setiap peserta kuliah mendapatkan Honor Code, semacam sertifikat yang menyatakan partisipasi kita dalam perkuliahan, namun sertifikat ini tidak ter-verifikasi atau tanpa ada tanda tangan dari pihak atau universitas penyelenggara. Jika ingin sertifikat yang terverifikasi? Bisa! Namun kita perlu membayar beberapa biaya, sekitar USD 30 atau ada yang lebih, sebagai ‘harga’ tanda tangan dari beberapa associate professor di Universitas penyelenggara.

Oh, ya kalau masalah ‘sertifikat’ , saya rasa EdX lebih bermurah hati daripada ‘Future Learn’, karna seperti yang say abaca, ‘Future Learn’ tidak menawarkan sertifikat ‘Honor Code’ secara Cuma-Cuma bagi peserta kuliah. Mereka hanya mengeluarkan ‘sertifikat’ partisipasi dan peenghargaan saja bagi peserta yang sudah ‘memesan’ dan sudah melakukan pembayaran (yang harganya mungkin sekitar 400-500 ribu ya kalau dalam kurs rupiah). Dan tentu saja, ini bukan membeli sertifikat lho, sertifikat akan menampilkan performa peserta yang sudah ter-record di akunnya masing-masing.

Bayangkan, memiliki sertifikat dari University of Harvard? Atau University of California of Berkeley? University of Edinburgh?

Keren bukan? 😀

Dua, wide variety of courses are available

Website kuliah online ini menawarkan beragam bidang kuliah yang bisa dipilih sesuai minat peserta kuliah. Ada bidang psikologi, teknologi, pendidikan, science, hukum bahkan ada tema-tema yang unik seperti ‘etika makan’. Tentu keren ! 😀

Berbagai pilihan ini memberikan kesempatan kalian memilih bidang yang se-linier dengan program studi, atau yang ‘sekedar’ minat saja. Jangan khawatir, tentu saja kuliah ini diberikan oleh para professor di universitas-universitas ternama, seperti Harvard, UC Berkeley dan sebagainya. J

Tiga, you will totally obtain knowledge and sciences!

Lewat perkuliahan ini tentu akan banyak ilmu yang bisa didapat. Siapapun yang mengikuti kursus online ini harus pintar-pintar memanfaatkan fasilitas ini. Prinsip saya, “mumpung ada kuliah berskala Internasional yang gratis!” kenapa tidak memanfaatkan sebaik-baiknya?

Karena perkuliahan yang bersifat massive dan terbuka, perkuliahan ini bisa diikuti oleh siapapun dari berbagai penjuru dunia. Bayangkan saja, satu kursus bisa diikuti 1000 lebih peserta kuliah dari berbagai Negara. Tentu saja, kita bisa berdiskusi banyak. 🙂

Ketiga, it’s your opportunity to improve language skills!

Karna perkuliahan internasional, tentu saja modul-modul dan video yang diberikan berbahasa Inggris. Diskusi, homework yang diberikan juga harus berbahasa Inggris agar dipahami oleh para peserta kursus. Karna demikian, tentu saja ini ‘memaksa’ kita untuk mengerahkan ‘semua’ kemampuan berbahasa Inggris kita. saya tidak peduli walaupun kemampuan bahasa Inggris saya yang masih ecek-ecek. Saya tetap percaya diri. Kursus yang berjalan beberapa minggu sudah banyak membantu saya mengembangkan kemampuan writing skills saya. Serius!

Walaupun kuliah ini bersifat online dan ‘preference’, yang artinya sesuka-suka saya, namun saya tetap menganggapnya serius. Saya tak menginginkan kuliah ini main-main. Saya setiap hari diburu deadline mengerjakan kuis, atau mengerjakan esay-esay yang diberikan. Dan ternyata cukup melelahkan bagi saya. Dari rasa ‘lelah’ ini saya sudah merasakan sedikit-banyak manfaat dari kuliah online ini. Mengerjakan tugas yang ‘mepet-mepet’ memaksa saya mengeluarkan ide-ide kemampuan writing saya yang masih level dasar. Gak papa, namanya juga latihan meen.. 😀

Buat kalian yang tertarik dengan kuliah online, I highly recommend this website.

EdX  https://www.edx.org/

Future Learn https://www.futurelearn.com/courses/categories

Website ini bisa menjadi lahan belajar untuk meningkatkan skill bahasa kalian. Trust me! (jangang anggap ini iklan yee :D)

Kesempatan Kedua

topeng-268x300

Berjodoh denganmu itu bagaikan hasrat memeluk bulan. Terlalu utopis. Sejak aku mengetahui ada sosok gadis sepertimu terlahir ke bumi 7 tahun lalu, aku selalu berharap Tuhan menghadirkan hari-hari ‘ajaib’ ke dalam hidupku. Entah bagaimanapun alur-nya. Apakah kamu mendadak mengirimu pesan singkat ke ponsel-entah bagaimana kau mendapatkan nomorku- atau mendadak kau menghadiri reuni tahunan angkatan sekolah kita, atau ada hari ‘ajaib’ di mana secara tidak sengaja ‘kau’ menjumpaiku di tempat yang bahkan tidak bisa aku bayangkan, di Malaysia misalnya, tempat di mana aku menitipkan sekeping kenangan tahun lalu. Namun, hampir 2555 hari sudah bumi mengitari matahari. itu tandanya sudah hampir 7 tahun masa berlalu, dan aku tidak tahun lagi berapa juta detik lagi aku harus menunggu hari-hari ajaib itu. Hingga kini, itu sama sekali belum terjadi.

Aku menyadari, bahwa Tuhan masih menempatkan kita di dua ruang yang berbeda, di mana dua ruang itu tidak memberi kita pintu, bahkan celah untuk saling menyapa. Dunia yang sempit kini, tetaplah masih terasa lebar jika tentangmu. Jika media sosial mampu menyatukan berjuta pasang manusia, maka, itu tidak berlaku bagiku dan kau, Dinda.

***

Jika membicarakan pengecut, maka akulah orang paling pengecut, karna diam-diam aku selalu menguntiti dirimu, lewat status-status pesan yang kau tulis setiap hari di akun facebook. Bagiku, tulisan-tulisanmu yang kau ketik setiap hari, entah tentang pesan kehidupan, tentang kutipan Ilmu, atau terkadang kutipan perasaanmu- itu penuh mantra yang membius. Apapun tentang dirimu rasanya seperti ‘nikotin’ yang terus mencandui mulut lelaki. Dan rasanya terus, terus aku membacanya hingga khatam dan hafal apa yang setiap hari kau tulis.

Suatu hari, Faiz tengah memergokiku saat aku membuka satu persatu album foto yang tersimpan di profil akun facebook-mu. Awalnya dia menyadari itu lumrah, karna sama dengan dirinya, Faiz juga penguntit yang handal dengan status-status teman kuliahnya, terutama yang perempuan. Namun, tiga hari setelah kejadian itu, tak sengaja lagi dia membaca lembaran-lembaran puisiku yang jatuh bercecer di depan lemari. Diary lama terlalu tua, dan akhirnya koyak. Kertasnya terlepas satu-satu. Tanpa sepengetahuanku, Faiz sudah mengkhatamkan risalah-risalahku untukmu yang sengaja tak kukirimkan, puisi-puisi yang sekuat tenaga kurangkai dari perasaanku yang paling ingin kusembunyikan. Dan pada akhirnya seperti ini. Perasaanku telah ditemukan. Faiz kemudian menghakimiku. Dia datang beramai-ramai dengan empat temanku, menggodaku sampai puas. Menertawaiku, menakutiku, menyemangatiku, dan entah aku tidak tahu lagi. Namun aku menyangsikannya. Kubilang bahwa hal terbodoh di dunia adalah mencintai orang yang tidak dikenal. Kubilang mencintaimu adalah kebodohan, dan kebodohan tidak akan aku lakukan seumur hidupku.

Maafkan aku Dinda, aku lebih menyadari bahwa mengingkari perasaan ini adalah   jauh lebih bodoh.

***

Aku mendengar bahwa kamu dan aku memiliki banyak hal yang sama. Hal yang kau suka, hal yang kau benci, hal yang sangat ingin kau lakukan, hal yang membuat kau muak, dan entah apa lagi. Kau menyukai film-film Comedy Romance, ya, itu sama sepertiku. Kau menyukai lagu-lagu Justin Timberlake. Ya, mirip denganku. Kau membenci cicak dan hewan-hewan reptile lainnya. Itu seratus persen menyamaiku, walaupun kutahu phobia ini sangat tidak cocok dengan lelaki jantan manapun di seluruh dunia. Kau sangat ingin berkunjung ke lembah Swatt di Pakistan, lembah yang katanya ‘Surga’ versi dunia. Ah, mimpimu itu sama denganku.

Namun, sudah kubilang, berjodoh denganmu adalah keinginan ang paling utopis. Aku sadar itu. Dari itulah aku lebih banyak membayangkanmu, menghadirkan wajah yang kulukis sendiri di pikiranku, dan membuatnya hidup untuk pemuas ke-tidakmungkin-an ini. Aku selalu membayangkan rasanya bisa berbagi kisah kehidupan denganmu, berbagi senyum, berbagi tawa, dan berbagi tangis. Tak ada lagi yang bisa kulakukan selain ini. Sendainya saja aku menjadi lelaki pemberani seperti kebanyakan. Aku ini macam lelaki bermental buruk, pengecut dan tidak mengenal namanya ‘perjuangan’. Satu-satunya senjataku adalah ‘sikap mengalah’ yang bisa membuat hal-hal yang kuinginkan akhirnya terlindas oleh

Oh ya, aku ingat kejadian tiga tahun lalu. Empat tahun sejak aku menggilaimu.

Ternyata, Tuhan pernah menempatkan kita dalam satu ruang bersama. Tepatnya, saat kita secara tidak sengaja mengikuti ‘kursus bahasa Inggris’ di sebuah perkampungan Inggris dalam waktu yang bersamaan. Seharusnya aku merasa Tuhan pernah baik denganku. Ubaid, pimpinan angkatan SMA kita mengirimiku pesan singkat untuk datang ke Kafe ‘Angora’ jam 7 malam tepat. Aku tidak tahu maksud acara yang dijadwalkan Ubaid. Sesampai di Kafe, aku melihat 6 kawan lama SMA, dan kau ternyata hadir salah satunya. Aku bingung bukan kepalang. Selain membahagiakan, rasanya juga seperti menyakitkan jika harus beradu wajah dengan matamu, Dinda. Aku duduk dengan perasaan yang teraduk-aduk seperti adukan gula, krim dan kopi di depanku. Rasanya seperti aku tak kuat mengangkat wajahku sedikit. Tanah yang tak pernah kuperhatikan, rasanya mendadak menjadi objek yang me-nyaman-kan. Kualamati sandal, tanah, dan rerumputan yang tumbuh rapi di bawa meja dan kursi kafe. Lama-lama Ubaid mencurigai sikapku yang lima kali menjadi pemalu.

“Kau seperti anak ‘autis’ saja. Hai bung, kenapa kau tundukkan mukamu yang sudah terkenal jelek?” candanya padaku.

hahaha, kau jujur sekali Baid,..” Faisal menimpali

“sial kau Bed, kau tidak tahu betapa mual-nya pikiranku..” rutukku dalam hati.

Sesekali kudengar sayup-sayup suara kau bergema, yang malah semakin membuatku membenci diriku sendiri. Ah Tuhan, seharusnya ini menjadi jalan kau satukan kami menjadi lebih dekat. Kenapa bisa begini?

Rasanya sudah dua jam setengah teman-teman berbagi rindu, berkisah, dan berbagi tawa. Kecuali aku, yang sedari tadi sibuk mengobrol dengan rumput. Sial.

Malam semakin larut. Kopiku masih kucecap seteguk di menit-menit awal tadi. Selebihnya aku sudah mual. Ubaid terpaksa harus mengakhiri reuni kecil ini, walaupun ia juga ingin berlama-lama lagi. Perasaan menyesalku menjadi-jadi saat aku tahu, bahwa mungkin ‘selamanya’ aku tidak bisa bertemu ‘kau’ lagi, karna, kau akan kembali ke Jakarta, dan aku ke Surabaya. Aku meyesal, bahkan sedetik aku tak berani menatap betapa memesonanya wajahmu apalagi berbicara padamu, untuk sekedar ber-salam saja. Ya, inilah aku, lelaki payah, yang mungkin tidak hanya kau, Dinda, gadis teristimewa di dunia, yang akan membenci diriku, tapi semua perempuan di dunia.

Aku benar-benar mengingat peristiwa itu. Peristiwa pertama dan terakhir saat Tuhan memberiku kesempatan istimewa Dinda, namun kusia-siakan. Maafkan aku, karna aku masih sering mengekori status-statusmu. Kuharap itu menjadi pengobat rinduku padamu yang tak pernah sampai.

“Tuhan, seandainya saja kau berikan kesempatan itu lagi padaku bertemu Dinda.. “

Pintaku malu-malu.

Kutitipkan mimpiku pada Tuhan…

dare-to-dream-just-do-it-seize-the-day1

Simon mengirimiku pesan lagi siang ini. Sudah hampir 4 bulan kami selalu berkirim pesan singkat tentang informasi beasiswa apapun yang masing-masing kami miliki. Kami berdua semacam menjadi partner scholarship hunter 4 bulan terakhir ini. Tekadnya berburu beasiswa magister sangat kuat. Sama denganku.

“nid, ada info beasiswa lagikah?”

Belum sempat kubaca pesannya, satu pesan darinya berburu masuk lagi.

aku hampir frustasi nih, taka da satu-pun pesan yang masuk ke email-ku. Gimana kabar aplikasiku kemarin? Turkiye Burslari, AAS, UM,

Aku bisa membaca tone kalimat pesannya dengan jelas, karna ku tahu apa yang dia rasakan saat ini. Dia dalam masa penantian yang mendebarkan. Setelah men-submit 4 aplikasi  pendaftaran beasiswa sekaligus di 2 bulan kemarin, hari-hari setelahnya menjadi hari yang menegangkan. Kami akhirnya bersapa balas di sms. Siang ini, selain beasiswa, kita membicarakan mimpi, hingga pilihan hidup.

Aku tahu, Simon di awal tahun 2015 ini sudah 4 kali berhasil mempersiapkan persyaratan 4 beasiswa dari 4 negara berbeda. Berbeda jauh dengan aku yang masih memilih berdiri di halte, membiarkan bus-bus lewat setelah lama kutunggu. Tawaran-tawaran beasiswa ini kuibaratkan seperti bus-bus yang berlalu, karna ia datang secara periodik dengan tenggang waktu yang singkat. Sama seperti bus-bus itu di halte.

Rasa percaya diri Simon kuakui memang lebih besar dari aku, yang selalu merasa ‘ketakutan’ saat bus-bus datang di depanku. Aku selalu merasa bahwa persiapanku sangat kurang dan kurang. Inilah kenapa aku terlihat seperti gadis yang tak jemu menanti bus, namun terus membiarkannya berlalu meninggalkan halte.

“kamu beneran gak jadi kuliah tahun ini?”

Pertanyaan Simon kesekian kali tentang jadwal rencana studiku. Aku sebenarnya cukup agak gusar mengingat pertanyaan Simon yang sama beberapa kali di hari yang berbeda.

“bagaimana mungkin? Aku belum memulai pendaftaran apapun, kalaupun aku bisa lolos beasiswa LPDP tahun ini, tentu jadwal kuliah tidak bisa dimulai tahun ini,

Kujelaskan lagi jawabanku yang sama dengan kalimat yang berbeda. Kenapa ia begitu susah menangkap pesanku ini. Aku sebenarnya cukup paham kenapa Simon bertanya bekali-kali, karna ia mencoba memastikan bahwa aku masih punya mimpi untuk mengejar beasiswa. kita akhirnya membicarakan waktu, berujung pada prinsip pilihan-pilihan hidup, dari pilihan hidupnya, pilihan hidupku, hingga pilihan hidup teman-teman yang lain.

kita itu mumpung masih baru lulus, dan lebih baik segera berlanjut ke s2, kamu berpikir berhenti dulu? Ah, nanti mimpimu keburu hilang, otakmu sudah malas untuk diajak berpikir, udah malas belajar..”

Aku terhenti. Jujur aku sedikit tidak bisa menerima pesan Simon kali ini. Rasanya aku ingin berbicara keras, dengan nada marah atau teriak, bahwa aku tidak akan selemah itu. Aku memahami apa yang sudah aku lakukan. Aku belum memulai apapun. Sedang dirinya, dia dalam masa menanti. Aku sedang menyaipkan senjataku. Mengasahnya agar lebih menjadi tajam. Aku menyadari, sama saja berperang dengan pedang yang tumpul. Aku tidak berhenti, namun aku sedang bersiap diri. Itulah alasanku yang sebenarnya ingin kujelaskan panjang lebar.

“ kau tau Farida, Lucky dan Alaili? Mimpinya dulu sama, ingin mengejar beasiswa, namun apaa sekarang? bahkan dia sudah menyerah, alasan yang nikah-lah, yang kerja-lah? Dia sudah lupa dengan mimpi awalnya. Lihat aku yang tak patah arang, istilahnya kalau judul film itu unbroken..”

“pokoknya aku gak bakal bekerja sebelum s2..”

Pesan-pesannya masuk berebut ke ponselku. Aku mendengus berat. Kenapa pesan semakin menampar-nampar aku? Bukan berlebihan sih, tapi rasanya pilihan hidupku seperti dihakimi.

sudah kutitipkan mimpi-mimpiku pada Tuhan..” jawabku singkat.

Lagi dan lagi ia berusaha merevisi setiap penjelasan tentang pilihan hidupku. Kubiarkan saja dia berbicara. aku lebih tahu apa yang ada di diriku. Yang aku yakini bahwa aku sekarang tidak berdiam diri. Aku juga sedang berupaya keras, aku butuh proses.

kamu yakin, mimpi akan tetap sama jika kamu tidak kuliah tahun ini?”

Sudah kucatat semua mimpi-mimpi di buku tulis agar tak lupa. Kutitipkan juga pada Tuhan di doa-doaku sepanjang waktu. Aku yakin, aku tak pernah lupa. jawabku singkat.

kamu

Tag

, , ,

PinkSword4

aku makin gemar mengekori punggungmu. Mataku terus memburu jejak langkahmu, hingga kamu menjadi bayangan satu titik di wajahku. Jauh. Dan, aku sudah tidak tahu lagisudah hari keberapa aku memburumu. Caramu berjalan, aku menyukainya, caramu berbusana aku sangat menyukainya, dan tentu saja caramu kau dekat dengan Tuhanmu, aku sangat mengaguminya. Aku terkesima. Aku tahu, ini perbuatan terkutuk oleh pengasuh asrama, jangankan! Bahkan ini terkutuk dalam tata aturan agama. Aku terus menatapmu kuat, jauh dari apa yang engkau sadari.

***

Seperti biasa kau langkahkan kaki, sembari sedikit berlari, mengejar bel sekolah yang sebentar laki berdering nyaring. aku sudah sangat hafal jam berapa kakimu menginjak halaman depan kamarku. Setengah jam lebih bahkan aku sudah menyiapkan diriku memandangmu lagi dalam bilik kamar. Ah, inilah kebiasaanku. Gayaku tetap, kupegang kitab Fiqih sembari bergaya muthala’ah pagi. Khusyuk. Aku tak pernah memedulikan belajar pagi dengan kawan-kawan di aula pesantren, karna kaulah satu-satunya alasanku untuk selalu duduk di samping jendela kamar tiap pagi.

Rima selalu berusaha membaca kebiasaanku, yang akhir-akhir ini semakin menggemari jendela kamar. Aku tidak tahu lagi bagaimana caranya aku berdalih. Udara pagi segar, angin dekat jendela menyejukkan, cahaya pagi yang menghangatkan, apakah itu bisa lagi dipakai alasan untuk pagi bergerimis ini? Rima tahu bahwa aku membenci hujan. Aku harus beralasan apa lagi untuk tetap membuat diriku ada dekat jendela? Karna kaulah alasanku!

***

Hari ini, satu puisi lagi tertulis di buku diary. Kebiasaanku menulis semakin rajin terlebih sejak aku mulai mengagumimu. Aku tahu, puisi-puisi ini semuanya bertema dirimu. Aku tahu tak ada orang yang bisa kuajak bicara tentang perasaanku padamu. Itulah kenapa, diary-ku ini kujadikan ia hidup, agar bisa kujadikan kawan bercerita, menjerit, menangis tentang perasaanku sendiri. Aku merasa aman berkisah dengannya, karna dia mendengar dan bisa benar-benar menjaga apa yang benar-benar ingin kusembunyikan. Entah sampai kapan?!

Satu minggu, satu bulan, satu semester, satu tahun, 4 tahun berlalu. Dan tetap saja aku tidak henti mengejar bayang-bayang punggungmu setiap pagi, hingga menjauh hingga titik tak bisa lagi mataku melihat. Sudah ribuan kalimat kugoreskan di kertas, sudah ratusan puisi kurangkai, hingga mungkin diary-ku sendiri sudah sangat bosan dengan kisahku yang masih monoton dan ber-alur tetap. Aku semakin tak sanggup berbicara tentang perasaanku. Karna aku tak mau menerima bahwa perasaanku mungkin sepihak. Biarkan saja ini tumbuh mengakar kuat namun sebenarnya rapuh. Biarkan ia tumbuh besar namun setengah mati. Biarkan ia begini. Biarkan saja, aku, diary, dan Tuhan yang Tahu.

Karna aku menyadari, perasaanku sebatas punggungmu saja!